Langsung ke konten utama

Unggulan

FRAMING MEDIA DAN LOGICAL FALLACY ALA MEDIA 

FRAMING MEDIA DAN LOGICAL FALLACY ALA MEDIA  Oleh: Kang Hari Sejak pagi tadi, banyak sekali berseberan di grup-grup WA yang saya ikuti, potongan video Menteri Agama; Gus Yaqut, saat ditanya wartawan terkait Surat Edaran Menteri Agama nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushalla. Parahnya lagi, video tersebut telah banyak “dimutilasi” serta dilakukan framing dengan tajuk; “Menteri Agama Menyamakan isitilah Gonggongan Anjing dengan Adzan”.  Tak ayal, “hasil jualan” para pelaku media ini, laris menjadi santapan para netizen, tak ubahnya pisang goreng di musim hujan.  Untuk memberikan sedikit gambaran, dan meluruskan pikiran-pikiran yang suka bengkok, saya mencoba untuk menyalin dan mentranskrip ulang statemen Gus Men Yaqut Cholil Qoumas tersebut ke dalam tulisan secara utuh, selanjutnya mengajak para member grup untuk menilai dan menelusuri dimana letak kesalahan narasi yang disampaikan, serta kemungkinan adanya Logical Fallacy (penga...

HATI-HATI DENGAN KELUHAN

Alkisah, pada suatu hari Syaikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli buah semangka untuk istrinya. Saat disantap istrinya ternyata buah semangka tersebut terasa hambar dan sang isteri pun marah-marah.


Syaikh Syaqiq Al-Balkhi menanggapinya dengan tenang amarah istrinya. Setelah selesai didengarkan amarahnya, beliau bertanya dengan halus kepada istrinya: 


"Kepada siapakah kau marah wahai istriku? Kepada pedagang buahnya kah? Atau kepada pembelinya? Ataukah kepada petani yang menanamnya? Ataukah kepada yang menciptakan buah semangka itu?" tanya Syaikh al-Imam Syaqiq.


Istri beliaupun terdiam.


Sembari tersenyum, Syaikh Syaqiq melanjutkan perkataannya: "Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik. Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula! Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik. Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada yang menciptakan semangka itu (Allah SWT)"


Pertanyaan Syaikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya.


Syaikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan perkataannya : "Bertaqwalah wahai istriku. Terimalah apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Agar Allah memberikan keberkahan kepada kita.”


Mendengar nasehat suaminya itu, sang istri pun sadar, menunduk dan mengakui kesalahannya serta ridlo dengan apa yang telah Allah tetapkan.


Pelajaran terpenting buat kita bahwa Ridlo itu adalah keterampilan mental untuk realistis menerima kenyataan Taqdir. Hati menerima kenyataan, dibarengi otak dan anggota tubuh yang berikhtiar terus untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi.


Mengapa kita harus ridlo? Karena jika kita tidak ridlopun, kejadian atau hasil itu pun tetap terjadi. Allah telah memberikan wahyu kepada Nabi Musa a.s.: 


"Wahai Musa, siapa yang tidak ridlo dengan keputusan-Ku, tidak sabar dengan ujian-Ku, dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Ku, maka hendaklah ia pergi dari  bumiku dan langitku, dan hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.”

Komentar

Postingan Populer