Langsung ke konten utama

Unggulan

FRAMING MEDIA DAN LOGICAL FALLACY ALA MEDIA 

FRAMING MEDIA DAN LOGICAL FALLACY ALA MEDIA  Oleh: Kang Hari Sejak pagi tadi, banyak sekali berseberan di grup-grup WA yang saya ikuti, potongan video Menteri Agama; Gus Yaqut, saat ditanya wartawan terkait Surat Edaran Menteri Agama nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushalla. Parahnya lagi, video tersebut telah banyak “dimutilasi” serta dilakukan framing dengan tajuk; “Menteri Agama Menyamakan isitilah Gonggongan Anjing dengan Adzan”.  Tak ayal, “hasil jualan” para pelaku media ini, laris menjadi santapan para netizen, tak ubahnya pisang goreng di musim hujan.  Untuk memberikan sedikit gambaran, dan meluruskan pikiran-pikiran yang suka bengkok, saya mencoba untuk menyalin dan mentranskrip ulang statemen Gus Men Yaqut Cholil Qoumas tersebut ke dalam tulisan secara utuh, selanjutnya mengajak para member grup untuk menilai dan menelusuri dimana letak kesalahan narasi yang disampaikan, serta kemungkinan adanya Logical Fallacy (penga...

Abdullah bin Mubarok Gagal Berangkat Haji

 

            Alkisah, Abdullah bin Mubarok hendak menunaikan ibadah haji. Beliau berangkat dari rumah dengan mengendarai sebuah keledai. Maklum, dizaman itu teknologi belum memadai, belum ada pesawat terbang.

Di tengah perjalanan, beliau melihat ada seorang perempuan bercadar sedang ngorek-ngorek sampah. Rupanya perempuan ini sedang mengambil daging bangkai hewan yang masih bersih. Abdullah bin Mubarok, selaku ulama, memandang kejadian itu otomatis janggal. Akhirnya beliau mendekati perempuan bercadar itu lalu bertanya:

ABM: Sedang apa, Ibu?

PB: Sudah sana pergi!

ABM: Saya harus tahu, Ibu ini sedang apa?

PB: Saya lagi ngambil daging bangkai ini untuk dimakan anak-anak saya!

ABM: Bu, daging bangkai itu haram untuk dimakan. Allah mengharamkan daging bangkai untuk dikonsumsi.

PB: Haram buat kamu, buat saya ya halal!

ABM: Dalam Islam itu ga ada halal buat kamu haram buat saya.

Lantas perempuan itu menangis. Kemudian menjelaskan atas perbuatannya itu:

PB: Saya ini janda, saya punya 4 anak yang masih kecil-kecil. Tidak ada yang bisa kami makan kecuali ini. Bukankah ini halal buat saya?

ABM: Ibu ini siapa?

PB: Gak perlu tahu

ABM: Saya harus tahu! Ibu ini siapa?

PB: Saya adalah Fulanah binti Fulan bin Fulan bin Fulan bin Fulan bin Fulan bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Tholib, Sayyidah Fathimah binti Rosulullah.

ABM: Kamu cucu Rasulullah? Kalau begitu ini keledai buat kamu, bekal saya haji buat kamu, uang saya buat kamu, semoga bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu. Malu saya sama Rasulullah, mau ditaruh dimana wajah saya jika membiarkan cucu Rasulullah makan daging bangkai.

Akhirnya beliau pulang dengan jalan kaki, tidak jadi berangkat haji.

Setelah kawan-kawannya pulang dari haji, beliau mengucapkan selamat:

ABM: Semoga haji kamu menjadi haji yang mabrur.

KK: Kamu juga semoga haji kamu menjadi haji yang mabrur.

ABM: Saya gak jadi haji.

KK: Gak haji gimana? Yang thowaf sama aku kan kamu!

ABM: Yang mirip sama saya itu banyak. Yang kamu lihat itu kembarannya sama!

Lalu beliau mendatangi kawan yang satunya lagi tidak lupa mengucapkan selamat dan dijawab dengan jawaban yang sama. Hal ini membuat Abdullah bin Mubarok bingung. Pasalnya beliau gak jadi haji tapi kata kawan-kawannya menyaksikan bahwa beliau haji. Semakin bingung Abdullah bin Mubarok. Disaat kebingungan, beliau tertidur. Dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW.

NM: Kamu bingung, Ya?

ABM: Naam, Ya Rasulallah

NM: Yang kamu kasih kemarin itu benar. Dia adalah cucuku. Suaminya meninggal dunia dan dia terpaksa harus menjadi tulang punggung bagi anak-anaknya. Dan kamu telah menjaga kehormatan cucuku. Maka aku minta kepada Allah supaya Allah menciptakan malaikat yang mirip dengan wajah kamu, yang dimana setiap tahun menghajikan kamu sampai hari kiamat.”

****

Kalau mau mencuri hati Rasulullah maka melalui cucu-cucunya.

****

Ket:

ABM: Abdullah bin Mubarok

PB: Perempuan Bercadar

KK: Kawan-kawannya

NM: Nabi Muhammad SAW.

 

 


Komentar

Postingan Populer